Flipped Board

Semenjak gue bekerja di Sarihusada (Danone Group), gue jadi lumayan sering travel ke sana kemari atas nama kantor. Tanggal 23-25 Maret lalu, gue dan teman-teman se-departemen memutuskan untuk meeting tahunan di Balikpapan. Pertanyaan yang sering muncul dari orang yang mendengar fakta ini adalah:

“Ngapain sih ke Balikpapan? Nggak ada apa-apa tauk!”

Hahaha. sebagai kota yang terkonsentrasi untuk industri dan permukiman, Balikpapan memang kurang pas rasanya kalo buat meeting yang diiringi dengan jalan-jalan. But anyway, karena gue belom pernah ke sana, gue sih hepi-hepi aja menyambut kota besar ini.

DAY-1

Yang bikin gue amazed adalah Bandara Sepinggan tempat kita mendarat yang ternyata gaul/keren/bersih/modern banget. begitu melihat Sepinggan, rasanya pingin langsung membumihanguskan Bandara Soetta yang rada-rada terminal pasar.

Image

Dari Sepinggan, kami dijemput pakai bus menuju restoran seafood Dandito. Si Dandito ini juga punya saingan yang namanya Kenari. Di sini gue makan lahap dan semangat banget, karena jarang-jarang bisa makan seafood yang segar bin juicy, terutama kepiting yang terkenal banget di Balikpapan. Dari tempat makan, kami langsung ke Hotel Aston Balikpapan buat meeting sampai sore dan nginep. Abis meeting, kami semua mengunjungi Pantai Kemala yang sungguh tidak ada apa-apanya. Nggak menghadap sunset, nggak ada water attraction, nggak terlalu bersih pula hahaha. Tapi pasir pantainya adalah salah satu pasir terhalus yang pernah gue pijak.

Malamnya kita makan di salah satu resto seafood lagi yang gue lupa namanya. Yang jelas para pekerjanya ramah-ramah banget dan baik hati. Not that i’m not grateful or anything. tapi ternyata toleransi gue itu cukup rendah buat mengkonsumsi seafood 2 kali dalam sehari. Udang, takut kolesterol. Kangkung, sama. Sup Ikan, yucky. Akhirnya gue cuma makan nasi sama ikan bakar. This has proven something for me. Seafood is ain’t for back to back meal. Too freakin’ yucky.

DAY-2

Wah. Hari kedua ini kami habiskan buat hidup di atas roda. Karena ternyata perjalanan darat Balikpapan-Samarinda itu nggak sebentar yah. Berangkat sekitar jam 8 pagi dari Aston BPN, kami mampir dulu ke Masjid Muhammad Cheng Hoo di Kutai Kartanegara. Masjid bernuansa Tiongkok ini tersebar di sejumlah kota besar Indonesia untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo dalam membantu penyebaran agama Islam di Nusantara.

Image

Dari masjid, kami berhenti lagi untuk makan (lagi-lagi) seafood di resto terapung. Akhirnya nasib gue sama, cuma makan nasi sama ikan bakar sama terong. Kelar makan di sini, kita wanti-wanti sang travel agency buat memastikan makan malam kita TIDAK di resto seafood lagi. Even as i’m typing this, I wanna puke. :p.

Gue juga kagum sama kostum Sultan Salehuddin II yang di mata gue terlihat edgy dan agak-agak skandinavia gitu.

Image

Dari museum Kukar, ternyata hidup kami di bus masih panjang. Kami menuju tempat wisata budaya Kampung Dayak Pampang yang terletak di antara Samarinda dan Bontang. Dari Samarinda, kami masih harus menempuh 2-3 jam ke dataran yang agak tinggi. Di Pampang, ada semacam rumah panggung besar di alun-alun desa yang memang diperuntukkan bagi acara-acara besar atau kunjungan wisatawan. Di sana kita bisa berfoto bersama tetua desa yang masih pakai kostum Dayak lengkap beserta lubang kuping yang panjang itu. Kita juga bisa minta anak-anak Dayak menari, serta meminjam kostum asli sana utuk dipakai dan difoto. Tapi ingat, semuanya bayar loh. Detilnya gue lupa, yang pasti range harga untuk foto dan pakai kostum itu sekitar  Rp25.000-60.000. Chack this out!

Image

Nyanya the Unsung Hero of Dayak!!! Hehehe. Btw, anak-anak Dayak itu pada bilang kalau muka gue itu persis kayak orang asli Dayak. Gue nggak tau itu lip service atau betulan sih.

Pulang dari Kampung Dayak Pampang, kami menuju Hotel Bumi Senyiur untuk menginap. Tapi sebelumnya melipir dulu ke restoran yang (akhirnyaaaa) menyajikan makanan non-seafood. I was thrilled to see grilled chicken, tom yum soup, etc.

DAY-3

Seolah tak bosan hidup di atas roda, hari ketiga atau hari terakhir ini kami gunakan untuk menempuh perjalanan dari Samarinda balik ke Balikpapan. Nggak begitu jauh dari hotel, kami mampir buat foto-foto sebentar di depan Masjid Islamic Center Samarinda. Cantiiik~

Image

Dari sini, kami mampir beberapa kali untuk makan durian, makan siang dan terakhir belanja oleh-oleh kerajinan di Pasar Kebun Sayur Balikpapan.

Anyway, Balikpapan adalah salah satu kota terbersih yang pernah gue lihat. Asal-usul namanya pun ternyata beneran ada kaitannya dengan papan yang dibalik, atau papan yang balik (pulang). But i’m not here to explain it to you, since our dearest pal Wikipedia will do it better here. Yang jelas, meskipun nggak ada nature attraction di sana, tapi Balikpapan-Samarinda itu cukup oke kok buat kunjungan bisnis, kuliner, budaya atau sejarah. Put them up on your visit list 😉  

Nyanya

2 thoughts on “Flipped Board

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s