Kawaguchiko: Mengejar Fujiyama

30 Agustus 2015.

Ada banyak cara untuk menikmati keindahan Fujiyama atau Gunung Fuji. Ada yang mendaki langsung gunung tersebut di kala subuh dan mengirim kartu pos unik dari atas gunung, ada juga yang pergi ke salah satu kawasan di sekitar gunung agar bisa memandang Fujiyama dari kejauhan dengan bentuk segitiganya yang indah dan megah. Kami memilih opsi kedua karena memang bukan pendaki gunung ulung, hahaha.

Ada beberapa kawasan di sekitar Fujiyama yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Kawaguchiko atau Danau Kawaguchi. Dari terminal di Shinjuku, kami menaiki Highway Bus tujuan Kawaguchiko yang sebelumnya sudah kami pesan dari Indonesia. Pembayaran sebesar 1.750 Yen per orang dewasa dilakukan on the spot di mesin dengan memasukkan kode booking yang sudah kami peroleh kala melakukan reservasi. Di terminal ini kami juga bertemu dengan satu keluarga asal Malaysia yang memiliki anak usia balita yang imut-imut sekali.

Bus berangkat sekitar pukul 10 pagi, sesuai pesanan kami. Tidak lupa kami berbekal onigiri dan telur rebus pujaan kedoyanan yang dibeli di konbini (convenience store) seperti 7-11, Lawson, atau Family Mart. Telur Jepang itu yah, aduh, aduh, aduh. Ayamnya disuruh apa dulu sih ya bisa enak banget begitu.

20150830_162630
Berupaya keras memotret kemasan yang lucu dan tekstur telur rebus yang luar biasa enak di tengah gujlak gajluk bus.

Sebelum tiba di Kawaguchiko, bus tersebut mampir dulu ke salah satu tujuan favorit para turis, yakni Fuji-Q Highland, semacam Dufan yang konon memiliki roller coaster terajib se-Jepang. Berhubung kami memang tidak mampir, jadilah saya hanya mengambil gambar dari dalam bus.

Jpeg
Dilihat dari jauh saja sudah terlihat kok hebohnya roller coaster di Fuji-Q.

Bus tiba di Kawguchiko Station yang bangunannya berbentuk unik seperti rumah kuno Jepang. Tujuan utama di Kawaguchiko adalah naik Kereta Gantung Kachi-kachi Ropeway untuk sampai ke observation deck di dekat puncak Mount Tenjo. Dari deck itulah kita bisa melihat segitiganya Fujiyama yang cantik itu.

DCIM100MEDIA
Kawaguchiko Station

Dari Kawaguchiko Station, ada dua pilihan menuju Kachi-Kachi Ropeway yaitu: 1) Naik Omni Bus dengan membayar 500 Yen, atau 2) Jalan kaki. Saya dan suami memutuskan untuk jalan kaki karena nggak terlalu jauh, ditambah udaranya juga segar.

Danaunya sendiri sih menurut saya tidak terlalu spesial, mirip-mirip danau Cipondoh pada umumnya saja. Yang membuat suasana lebih cantik adalah cuaca yang sejuk dan toko-toko mungil yang berjejer manis di dekat area danau. Danau ini sesungguhnya akan terlihat lebih cantik kalau tidak ada kabut yang menghalangi pemandangan ke arah Fujiyama. Dalam hati, saya agak-agak cemas apakah Fujiyama akan kelihatan dari observation deck, atau sama-sama tertutup kabut seperti di bawah sini.

Jpeg
Di tepian Danau Kawaguchi.

Akhirnya kami sampai juga di tempat naik Kachi-kachi Ropeway. Ada patung kelinci dan rakun lucu yang menjadi ikon wahana tersebut. Namun ternyata, dua ikon ini diambil dari dongeng yang berlokasi di Gunung Tenjo tentang kelinci yang membalas dendam pada rakun pencuri dengan cara membakar dan menenggelamkannya. Dongeng kok sadis banget ya? pikir saya. Usut punya usut, ternyata dongeng tersebut adalah karya penulis Osamu Dazai. Oh, pantas. Try google his other works, and you will understand. πŸ™‚

20150830_1342431-e1523517756765.jpg
Kelinci dan Rakun, ikon Kachi-kachi Ropeway yang imut tapi horor.

Kami membayar 800 Yen per orang untuk tiket naik-turun. Ada juga tiket sekali jalan seharga 450 Yen bagi yang ingin melanjutkan perjalanan dengan treking melalui hutan. Kereta gantungnya bisa diisi sekitar 15 orang. Pemandangan dari dalam kereta gantung juga cantik sekali. Tapi, naga-naganya Fujiyama memang tertutup kabut nih.

ydxj0112.jpg
Pemandangan dari dalam Kachi-kachi Ropeway.

Sampai di observation deck dekat puncak Gunung Tenjo, saya harus menerima kenyataan bahwa: Fujiyama tertutup kabut. Hahahaha. Alhamdulillah, bisa sampai di sini dengan selamat saja sudah suatu berkah bagi kami. Dibandingkan kekecewaan yang sangat kecil ini, tentunya nikmat yang Allah SWT telah berikan lebih banyak dan besar. Apalagi, saya langsung ceria kembali setelah jajan kue dango bakar di kedai kecil di sana. Dari dulu saya penasaran seperti apa sih kue kesukaannya Miiko Zaman Edo ini. Ternyata, tekstur Dango yang berwarna putih itu kenyal, lebih keras dari mochi, tapi lebih lembut dari siomay. Kebayang? Sausnya sendiri sepertinya hanya kecap manis Jepang, jadi rasanya manis-manis saja. Enak dinikmati hangat-hangat di ketinggian seperti ini. Harganya 320 Yen untuk satu tusuk isi tiga.

Tenjo
Dango bakar di kedai Tanuki Chaya. Ada motif Fujiyama di Dangonya.
YDXJ0121.jpg
Berhubung Fujiyama sedang absen, Gunung Tenjo pun kelihatan seperti Tangkuban Parahu sajah.

Puas foto-foto (tanpa Fujiyama) di Gunung Tenjo, saya dan suami memutuskan untuk turun lagi ke Danau Kawaguchi menggunakan Kachi-kachi. Perut lapar minta diisi. Kami sempat khawatir karena bekal onigiri sudah habis, sementara kami belum sempat hunting restoran halal di sekitar situ. Alhamdulillah, ternyata di dekat danau ada restoran India yang menyediakan makanan halal.

Memang selama di Jepang, kami lebih banyak makan makanan non-Jepang seperti Pakistan, Turki dan India yang menyediakan masakan halal. Kalaupun makan di kedai yang memang khas Jepang, jumlahnya sangat terbatas dan harus riset dahulu, belum tentu ada di mana-mana. Tidak apa lah, ya. Asal yang masuk ke perut tetap halalan.

DCIM100MEDIA
Porsi besar dan pelayan yang ramah di kedai kecil Alladin Indo Restaurant.

Mengingat Fujiyama sedang absen, boleh dibilang momen favorit saya di Kawaguchiko adalah ketika kami makan dan bercengkrama di kedai mungil ini. Saat-saat “istirahat” seperti ini adalah saat bagi saya dan suami mendiskusikan hal-hal menarik yang sudah kami alami hari itu dan rencana kami untuk perjalanan besok dan seterusnya. Alhamdulillaaah πŸ™‚ Kalau mengingat momen-momen favorit berdua, saya jadi ingat lagi untuk bersyukur.

Kami melanjutkan perjalanan pulang ke Kawaguchiko Station masih dengan berjalan kaki. Dari stasiun itu, kami akan naik Highway Bus lagi sesuai tiket yang sudah dipesan. Sampai jumpa, Kawaguchiko. Sampai ketemu kapan-kapan Fujiyama! πŸ™‚

P_20150830_143355_HDR.jpg
Suami iseng.

PS. Momen di atas yang kelihatannya biasa saja ini juga salah satu favorit saya. Saat berfoto dengan pose membelakangi kamera dan menghadap ke rumah-rumah penduduk, suami saya kumat isengnya dan pergi bersembunyi usai menekan shutter. Kok lama banget motretnya? pikir saya. Begitu saya menengok ke belakang, Pak Solomo sudah hilang dari pandangan. Sempat panik sebentar mencari-cari kemana perginya, suami tiba-tiba muncul dari tempat bersembunyi sambil tertawa cekikikan. Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih jadi objek favorit keisengan suami saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s