Tokyo: Harajuku dan Disney Sea

31 Agustus 2015.

Sesungguhnya, mampir ke dua tempat ini tidaklah masuk ke dalam daftar utama saya dan suami. Kami lakukan karena dirasa masih sanggup dan ada sisa waktu. Oleh karena itu, sejak di Indonesia, saya hanya pesan tiket Disney Sea yang Half Day dari jam 3 sore.

Turun di stasiun subway Meiji Jingumae, kami disambut keramaian manusia dan kendaraan yang lalu lalang. Memang, salah satu stasiun tersibuk itu mencerminkan area Harajuku yang hampir selalu ramai dan hidup.

Tidak jauh dari stasiun tersebut, ada gerbang raksasa menuju Kuil Meiji Jingu. Kebetulan saya dan suami memang tidak berencana untuk masuk dan mengeksplorasi area kuil secara keseluruhan. Namun di area gerbang saja, kesibukan kota modern di luar sana secara ajaib digantikan oleh kedamaian dan pohon-pohon hijau sejauh mata memandang. Tidak heran, mengingat kuil yang didedikasikan untuk Kaisar Meiji ini memang ditanami sekitar 100.000 pohon.

DCIM100MEDIA
The gate was not just big. It was MASSIVE. Pardon my no lipstick chubby face hahaha.

I am not kidding, though. Gerbang ini sungguh monumental dan hampir tidak bisa ditangkap mata secara keseluruhan kalau kami berdiri terlalu dekat. Very majestic. 

Di dekat gerbang, ada sebuah monumen unik yang tersusun dari tong-tong cantik warna-warni yang nampaknya merupakan persembahan dari para anggota asosiasi produsen sake untuk kaisar dan permaisuri.

20150831_140623.jpg
Tong-tong dekoratif di dekat gerbang Kuil Meiji Jingu.

Puas duduk-duduk, mengobrol sambil menikmati hijaunya alam, kami melanjutkan perjalanan ke Takeshita Dori, shopping street terkenal di Harajuku. Kami sih tidak bertemu dengan cosplayer yang nyentrik, tapi bisa dibilang, orang-orang yang berseliweran di sini memang lebih modis dalam berpakaian dibanding yang biasa saya lihat. Mungkin karena mereka rata-rata masih berusia muda.

emoji
Mohon Maap. Muka yang terlalu jelas perlu saya sensor untuk menghindari ketenaran, eh, maksudnya penyalahgunaan.

Toko-toko yang ada di sini juga menjual pakaian yang lucu-lucu, modis dan biasanya berwarna-warni heboh. Tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan tentang Harajuku karena kami sibuk belanja oleh-oleh di Daiso. Memang, salah satu cabang Daiso terbesar di Jepang ada di Takeshita Dori ini. Jadi sempatkan belanja ya kalau ke sini.

Berhubung hati masih muda tetapi raga sudah jompo dewasa, kami pulang dulu ke penginapan untuk istirahat. Rasa lelah disambut tempat tidur nyaman memang biasanya berkembang menjadi kemalasan. Jadilah kami baru berangkat ke Tokyo Disney Sea usai salat maghrib. Luar biasa.

Dari stasiun dekat penginapan, kami menuju ke Maihama Station karena dari Maihama kami akan menyambung perjalanan menggunakan Disney Resort Monorail. Di perjalanan kereta menuju Maihama, ternyata kami berbarengan dengan rombongan para komuter yang baru pulang kerja. Isi kereta yang cukup padat membuat saya dan suami tertahan di tengah-tengah gerbong, padahal sebentar lagi giliran kami turun.

Saya dan suami pandang-pandangan sambil bisik-bisik mendiskusikan cara kami untuk membelah kerumunan komuter. Saya mengajarkan suami untuk bilang “Shitsurei Shimasu” dan “Sumimasen”, ungkapan yang saya ingat untuk bilang permisi. Di tengah-tengah khidmatnya strategi perang tersebut, ada bapak-bapak di usia 50an di depan suami saya yang menoleh sambil tersenyum. Dia hanya menunjuk-nunjuk pintu sambil mengucapkan kalimat yang tidak saya pahami artinya. Berasumsi bahwa beliau bertanya “Ngana mau turun?” saya dan suami mengangguk-angguk sambil bilang “haik” berkali-kali. Alhamdulillah, ternyata ada orang yang mau turun di tempat yang sama.

Tiba di Maihama, bapak ramah tersebut membelah kerumunan sambil bicara bahasa Jepang. Beliau turun kereta duluan disusul kami berdua di belakangnya. Usai kami turun, ternyata beliau naik lagi ke dalam kereta sambil tersenyum menganggukkan kepala. Masya Allah, beliau pure hanya membantu kami turun, bukan karena ingin turun di Maihama. Saya dan suami segera membungkuk-bungkuk sambil bilang “Arigatou Gozaimasu”. Beliau masih tersenyum saat kereta melaju. Saya terharu, Allah memang selalu mengirim bantuan untuk kami menghadapi masalah yang kecil atau besar.

Dari Maihama, kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta monorail yang imuuuut sekali. Jendela dan pegangan tangannya berbentuk kepala Mickey Mouse. Saya dan suami kira, perjalanan kami akan sepi sekali. Ternyata, cukup banyak juga keluarga dan pasangan yang baru berangkat ke Disney Sea maghrib-maghrib seperti kami.

monorail.jpg
Muka saya crop saja lah ya. Kurang berguna juga di foto ini.

Oke, sampai di Tokyo Disney Sea. Ngomong-ngomong soal theme park, mengapa bukan Disneyland? Kami pikir Disney Sea ini lebih spesial karena hanya ada di Jepang. Sementara Disneyland insya Allah bisa kami kunjungi di negara lain. Universal Studio Osaka pun tidak kami kunjungi karena baru tahun kemarin kami ke US di Singapore. Lalu, apakah pertimbangan saya tepat? Hmm.. kalau saya bisa mempertimbangkan ulang, saya merasa akan lebih seru kalau kami pergi ke Universal di Osaka karena ada Wizarding World Harry Potter, yang mana adalah kisah favorit semasa childhood. Pilihan kedua adalah Disneyland, untuk alasan yang sama.

Nah, Disney Sea ini, seru sih. Tapi wahananya bisa dibilang agak jadul, belum mengandalkan teknologi visual yang ciamik. Jadi jangan harap ada wahana yang impactful seperti Transformers atau Mummy nya USS. Salah satu wahana andalan Disney Sea seperti Journey to The Center of The Earth pun akhirnya terasa yah, begitu saja. Menurut saya dan suami, Tokyo Disney Sea ini kualitasnya di atas Dufan, tapi masih di bawah USS. Menurut kami, loh ya. Bisa jadi Disney Sea akan lebih seru kalau dinikmati sejak pagi hari.

Tapi seperti yang kami yakini, kami tidak mau menyesal lama-lama. Kenapa? Karena menyesal dan was-was itu datangnya dari setan. Jadi jangan ada pikiran “Yah coba begini,” atau “Kalau saja kami begitu,”. Disyukuri aja rezeki yang ada. Hihihi.

cats.jpg
Foto-foto kualitas top notch. Goyang, tidak fokus dan buram hahaha.

Berhubung hari sudah malam dan kamera kami juga bukan yang oke-oke banget, jadilah kami cuma foto seadanya di tempat yang lightingnya lumayan. Yang paling saya ingat, kami ditegur baik-baik oleh salah satu penjaga di sana. Ternyata, penggunaan tongsis itu tidak diperbolehkan karena takut mengganggu kenyamanan dan keamanan. Saya dan suami yang biasanya selalu mengikuti peraturan jadi malu sendiri. Jadi, kalau kamu ke sana, jangan pakai tongsis ya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s