Batu: Jatim Park 3 & Museum Angkut

6 November 2018.

Di hari kedua liburan, saya, suami dan adik kami Bintang mengunjungi Jatim Park 3 dan Museum Angkut. Setelah check out dan titip koper di Homestay, kami naik Grab Car dengan biaya sekitar Rp15.000. ke JP3. Gara-gara kurang teliti, kami sudah sampai di JP3 jam 9.00 WIB padahal pintu masuk baru dibuka jam 11.00 WIB. Untungnya di depan JP3 ada restoran Ria Djenaka yang makanannya ternyata enak-enak banget.

Btw, ada apa aja sih di dalam Jatim Park 3? Jadi kawasan Jatim Park 3 ini berisi banyak sekali pilihan atraksi berbayar yang bisa kita masuki sesuai selera. Yang besar-besarnya itu ada Dino Park, The Legend Star, Galeri Musik Dunia dan Fun Tech. Selain itu masih ada juga atraksi-atraksi lain yang saya nggak hafal.

Dino Park (HTM Rp75.000/org weekdays) adalah taman hiburan dan belajar yang mengangkat tema dinosaurus. Dari gerbang Dino Park, kita bisa melihat museum mini yang menampilkan fakta-fakta menarik tentang dinosaurus. Dari sana, kita bisa mengantri naik wahana Jelajah 5 Zaman dimana satu kereta yang berisi 48 orang akan berkeliling mengunjungi 5 zaman kehiduoan dinosaurus, disertai dengan patung dino yang bisa bergerak dan narasi informatif tentang kehidupan mereka.

Bergeser dari sana, wahana pertama yang kami temui setelah melewati jembatan adalah Dino Action. Kami naik kereta kecil yang jalan di atas air dan masuk ke gua berisi replika-replika dinosaurus dengan berbagai aksi. Di ujung lintasan, kereta menanjak ke ketinggian dan meluncur turun membuat air menyiprat kemana-mana. Mirip Niagara-gara di Dufan, lah. Tapi tenang saja, air yang menyiprat nggak banyak, kok. Kamera dan ponsel bisa tetap aman asalkan ada di dalam tas.

D2 - 1 - Dino Action.jpg

Apalagi yang spesial dari Dino Park? Kalau cari wahana yang bisa memuaskan adrenaline junkie, memang bukan di sini tempatnya. Bagi saya, Dino Park lebih banyak menawarkan permainan-permainan sederhana yang ramah anak seperti istana boneka, patung-patung dino yang bisa bergerak, bermain ketangkasan, bumper car, dan lain-lain. Adapun yang cukup menarik dari Dino Park adalah spot-spot foto yang tentunya menyenangkan buat anak-anak.

D2 - 2 - Spot Foto.jpg

Masuk ke area The Rimba, saya semakin yakin kalau Dino Park ini akan lebih seru bagi anak-anak. Kamu tahu kebun binatang, kan? Nah, The Rimba ini kurang lebih seperti kebun binatang, hanya saja hewan-hewan tersebut diganti dengan replika dino yang sebagian besar bisa bergerak dan bersuara. Masing-masing replika tersebut disertai penjelasan singkat yang bisa kita pelajari.

D2 - 3 - The Rimba.jpgDi The Rimba ini juga banyak replika yang bisa kita jadikan spot foto atau untuk dinaiki. Pendapat saya tentang Dino Park, menarik untuk kunjungan pertamatapi rasanya nggak cukup exciting untuk bikin ingin datang lagi dan lagi. Untuk anak-anak usia SD, sepertinya area Dino Park akan lebih menyenangkan dan berkesan.

Kelar keliling Dino Park, kami keluar dari area Dino Park dan masuk ke area Fun Tech dengan membayar HTM sebesar Rp30.000/org (weekdays). Apa sih Fun Tech ini? Pada dasarnya, tempat ini adalah game center dengan permainan-permainan yang lebih canggih seperti VR, Augmented Reality dan sebagainya.

Buat saya, Fun Tech ini malah lebih seru karena lebih bikin gerak dan interaktif. Beberapa yang kami coba: VR seolah-olah naik roller coaster, fruit ninja, menghindari laser, simulasi tenis, simulasi dance dan hujan buatan di Paris. Beberapa yang pasti menarik untuk anak-anak adalah mewarnai gambar ikan yang kemudian dipindai oleh petugas. Ikan hasil karya kita tersebut akan berenang di layar besar di tembok yang seolah-olah menjadi akuarium raksasa. Selain itu ada juga tempat berfoto yang akan menempelkan wajah kita di tubuh singa laut. Lucu 🙂

D2 - 4 - Fun Tech.jpgDari Fun Tech, kami nggak mencoba atraksi-atraksi lain seperti Cinema 6D, XD, Rumah Zombie dan lain-lain. Kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Angkut. Dengan Grab Car yang harganya nggak sampai Rp20.000, kami tiba di Museum Angkut dan membeli tiket masuk seharga Rp70.000/org beserta tiket kamera seharga Rp30.000/kamera. Kalau kamu bawa kamera jenis apapun seperti DSLR, mirrorless, Go Pro, dan sebagainya, kamu harus beli tiket kamera. Ada semacam gantungan berlogo Museum Angkut yang akan dipasangi oleh petugas di bagian tali kamera. Tetapi kalau kamu cuma mau foto-foto pakai kamera ponsel, tidak dikenakan biaya.

Nah, di Museum Angkut ini memang suami dan adik lebih excited karena isinya mobil-mobil dan motor-motor antik dari berbagai negara. Saya lebih banyak berperan jadi juru foto, hahahaha.  Museum ini terdiri dari berbagai zona yang dibagi sesuai tema atau negara. Misalnya Zona Aviasi, Formula 1, Cowboy, New York Gangster, London, Italia, Perancis, Jerman, hingga Hollywood. I’m telling you, mata suami saya berseri-seri banget lihat Mercedes tua dan merek-merek lainnya. Sayangnya, di sini nggak terlihat satupun mobil BMW. Konon menurut suami saya, kalau orang sudah fanatik sama Mercedes, biasanya dia akan agak sensi sama BMW. Mungkin semacam Canon Vs Nikon ya, hehehe.

D2 - 5 - Angkut1.jpg

Harus saya akui, Production Design untuk latar belakang tempat masing-masing zona ini digarap dengan apik sekali, sehingga kami benar-benar merasa sedang tidak di Indonesia. Tentunya spot foto yang oke pun jadi banyak banget, tersebar dari ujung ke ujung. Selain pajangan mobil dan motor, Museum Angkut juga menyajikan performance para cosplayer di panggung. Ada juga simulasi mengendarai mobil F1 yang bisa dinikmati dengan biaya ekstra Rp20.000.

D2 - 6 - Angkut2.jpg

Di pintu keluar Museum Angkut, kami tiba di area Pasar Apung yang menjual aneka jajanan dan oleh-oleh yang, lagi-lagi menyerap UKM sekitar. Salut sama Jatim Park Group untuk satu hal ini. Selesai jajan, kami pun memesan Grab Car lagi untuk mampir ke homestay mengambil koper titipan dan bertolak menuju ke Malang dengan biaya sekitar Rp80.000.

Sebelum keluar dari Batu, driver kami yang baik menawarkan untuk berhenti di toko Harum Manis membeli oleh-oleh. Fyi, banyak yang menyarankan agar kami beli oleh-oleh di Batu saja karena lebih enak, murah dan beragam. Makanan khas area Malang-Batu adalah keripik apel dan buah-buahan lain seperti nangka atau buah naga.

Kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Malang. Tekad kami sudah bulat, sampai Malang langsung makan dan istirahat. Nggak boleh tidur malam-malam karena besok dini hari, kami akan ikut tur ke Bromo. Yuhu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s