Bromo: Ngejip dan Pose ala Dian Sastro

7 November 2018.

Sebelum berangkat ke Malang, kami sudah booking tur open trip ke Bromo seharga Rp300.000/org bareng Nahwa Tour. Jujur saja saya nggak terlalu siapin apa-apa selain daftar barang bawaan yang direkomendasikan oleh pihak tur seperti jaket, sarung tangan, obat, masker, dan sebagainya. Nggak seperti biasanya pula, kami sama sekali nggak kepo sebenarnya tur Bromo itu akan ngapain atau kemana saja. We just kinda wing it 🙂

Sesuai janji, kami dijemput jam 01.00 WIB di depan penginapan menggunakan mobil Jeep (Toyota Land Cruiser FJ40) bersama driver bernama Pak Huri. Karena bukan tur privat, kami berangkat bersama satu rombongan lainnya yang terdiri dari tiga orang ciwi-ciwi manis fresh graduate UIN Yogya bernama Fikri, Fika dan Anti. Satu Jeep itu memang cukup untuk 6 orang plus supir. Dua duduk di depan samping supir, empat orang duduk di belakang dengan berhadap-hadapan.

Awalnya waktu jemput rombongan mereka, saya duduk di belakang, tapi ternyata mual juga gara-gara badan agak panas kurang tidur. Akhirnya saya dan suami pindah ke depan dan pas Pak Huri nawarin untuk belanja di mini market, saya langsung borong permen dan minyak angin wangi lemon. Uah, i felt so much better. Sayangnya, Anti dan Fikri yang duduk belakang yang malah muntah. Hehehe.

Jadi, tur Bromo itu kemana saja sih? Saya ikut paket yang paling standar dan mencakup 4 lokasi favorit turis. Cek di bawah ini ya:

1. Menanti Sunrise di Penanjakan Bromo.

Perjalanan dari Malang menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS). Nggak jauh dari gerbang, kita akan tiba di jalur pendakian untuk melihat matahari terbit. Kami tiba bersama belasan hingga puluhan Jeep lainnya dari tur-tur lain.

Dibilang jalur pendakian pun, sebenarnya kami cuma sedikit mendaki jalan menanjak yang di kanan kirinya banyak kedai kecil penjaja pisang goreng panas atau mie kuah. Nggak lama setelah mendaki, kami sudah sampai di sebuah amphitheater atau deretan kursi berbahan semen yang menghadap ke arah tempat matahari terbit. Jam menunjukkan pukul 3.30 WIB. Sejauh ini cuaca bagus dan lampu-lampu pedesaan di bawah sana berkelip-kelip cantik. Nggak lama kemudian kami salat subuh di musala di sebelah deretan kursi dan bersemangat sekali menunggu sunrise. Oya, kita juga bisa sewa matras untuk alas duduk (seukuran sajadah) seharga Rp10.000/pc, selimut, jaket, jas hujan, dan lain-lain.

Sayangnya, berhubung belum rezeki, kabut tebal tiba-tiba datang menutupi pemandangan disertai hujan. Kami buru-buru pakai jas hujan yang sudah kami beli dari Tangerang. Sayang sekali, pagi itu matahari belum berpihak pada kami. Pukul 05.15 WIB kami kembali ke Jeep dan beranjak ke spot berikutnya. Di tengah jalan, Pak Huri menghentikan mobil dan mendorong kami untuk foto-foto dengan latar belakang bukit dan gunung yang cantik. Lumayan lah ya buat mengobati kekecewaan.

D3 - 1 - Sunrise.jpg

2. Kawah Gunung Bromo

Bisa dibilang, kawah Bromo ini adalah atraksi utama rangkaian tur ini. Kalau kamu pernah lihat foto orang (atau nonton FTV) dengan latar belakang hamparan pasir yang luas, kuda hilir mudik, dan belasan Jeep warna-warni, maka hampir pasti yang kamu lihat itu adalah kawasan ini. Dari parkiran Jeep, kita bisa jalan sekitar 10-15 menit ke kaki Gunung Bromo. Kelihatannya jauh banget memang, tapi nggak kerasa kok kalau sambil ngobrol di tengah cuaca dingin. Pilihan lainnya, kamu bisa naik kuda dengan biaya Rp150.000/org sampai ke tengah bukit. Kata Pak Huri, kalau mau naik kuda dengan harga murah, coba tawar saja sambil jalan dan pura-pura cuek. Menurut beliau bisa lebih murah. Kami? tentu saja jalan.

Saya dan suami bukan pecinta naik gunung atau panjat-panjat sosial, jadi kami cuma nongkrong sambil foto-foto di retakan kaki gunung. Lagi pula saya kadung malas mendaki-daki kalau ingat pengalaman ngos-ngosan di Sikunir Dieng belum lama ini. Pada dasarnya, kami memang anak pantai. Nggak demikian dengan adik kami Bintang. Dia determined banget untuk bisa sampai ke puncak dan melihat kawah. Akhirnya, dia pun mendaki sedikit dan berhasil nawar untuk naik kuda seharga Rp30.000 sampai bagian tengah gunung. Dari tengah, wisatawan bisa mendaki tangga (curam) sampai ke puncak.

D3 - 2 - Kawah.jpg

3. Hamparan Pasir Berbisik

Nah. kawasan yang satu ini jadi terkenal dengan sebutan Pasir Berbisik pasca tayangnya film karya Nan Achnas yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim. Isinya apa? hamparan pasir yang luaaaaaaas banget. Pada akhirnya, memang di sini nggak ada yang bisa dilakukan selain foto-foto. Meski begitu pun, Pasir Berbisik adalah lokasi yang sangat indah dan mengingatkan kami betapa kecilnya manusia.

Saya sempatkan foto dengan bertelungkup di atas pasir. Yah, meskipun hasilnya jauh banget dibanding kaka Dian, yang penting sudah nyoba lah ya. Btw, Bintang dimana? TIDUR di Jeep. Untung ada Anti dkk yang bisa fotoin kami berdua. Hahaha.

D3 - 3 - Pasir.jpg

 4. Padang Savana dan Bukit Teletubbies

Seperti namanya, area yang masih masuk ke dalam kawasan TN-BTS ini menyajikan hamparan savana dan bukit kehijauan mirip rumah Tinky Winky cs. Pak Huri mengajak kami agak ke atas, menjauhi spot yang ramai oleh turis. Di sini pemandangannya lebih surreal lagi. Saya rasa foto-foto nggak akan cukup untuk menggambarkan keindahannya. Sedihnya, belum lama ini ada kebakaran seluas 30 hektar di area savana dan bukit-bukit ini yang konon disebabkan oleh ulah manusia. Alhamdulillah, area yang kebakaran tersebut sudah mulai ditumbuhi rumput-rumput hijau lagi.

D3 - 4 - Tele.jpg

Malam-malam Makan Ronde

Selesai tur, kami diantar pulang lagi pakai Jeep yang sama dan tiba di Malang sekitar pukul 11.00 WIB. Kami mandi, tidur dan makan siang di warung dekat homestay. Malamnya, kami main ke alun-alun dan naik odong-odong dengan lampu semarak untuk keliling sekitar situ dengan biaya Rp5000/org.

D3 - 6 - Tele.jpg

Selesai makan Nasi Mawut yang letaknya lagi-lagi dekat homestay, kami makan Ronde Titoni yang ngehits banget di Malang. Di sana kami ketemuan dengan Mas Bella, rekan saya waktu jadi wartawan di Kompas Gramedia dulu. Kami pesan Ronde Basah, Ronde Kering dan Angsle. Duuuh!! Enak banget. Nggak bisa digambarin apa bedanya dengan ronde di Tangerang. Pokoknya beda. Rasanya lebih sedap dan otentik.

D3 - 5 - Tele.jpg

 

 

 

 

One thought on “Bromo: Ngejip dan Pose ala Dian Sastro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s